3-MEANINGFUL DAYS WITH ISMAFARSI
Pekanbaru, 18-21 Februari 2016
Indonesian Pharmaceutical
Leadership Forum 2016 dimulai pada tanggal 18 Februari 2016 dengan screening
meliputi tulisan-tulisan kami mengenai farmasi dan ISMAFARSI. Setelah sholat
magrib, materi pertama dimulai. Materi pertama yang kami terima yaitu mengenai
“Self Branding dan Be Mawapres”. “Self Branding dan Be
Mawapres” ini disampaikan oleh kak Teguh Prambudi dan ilmu penting yang kami
dapatkan dari sana yaitu bahwa setiap orang perlu untuk membentuk personal branding sendiri karena setiap
individu memiliki keunikan masing-masing yang tidak ada orang lain bisa
menirukan, dan dari personal branding
kita dapat dikenal oleh masyarakat tingkat majemuk. Tentunya dalam membentuk personal branding harus disesuaikan
dengan potensi diri yang meliputi passion,
vision, mission, dan dibuktikan dengan take
action. Selain itu, dari materi pertama ini kami juga dibekali kiat-kiat
untuk menjadi seorang mahasiswa berprestasi atau yang iasa kita kenal dengan
mawapres, diantaranya yaitu kita seharusnya menentukan target pencapaian
prestasi seperti dengan mengikuti suatu kompetisi minimal satu tiap bulannya,
kemudian dengan membiasakan penggunaan Bahasa Inggris secara aktif, dan selalu
berlatih membuat suatu karya tulis atau essay.
Hari kedua,
aktivitas kami dimulai pada pukul 5 pagi untuk jogging bersama, dan dilanjutkan dengan materi kedua pada pukul 8. Materi
kedua yaitu “Peran ISMAFARSI Terhadap Farmasi Indonesia” yang membahas mengenai
pendidikan farmasi di Indonesia dan di luar negeri. Materi kedua ini dibawakan
langsung oleh ketua APTFI (Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia), Pak
Daryono Hadi Tjahjono. Dalam materi ini, beliau menekankan pada sebab mengapa
farmasi Indonesia tertinggal dari farmasi di negara lain. Beliau memaparkan
pentingnya ujian dengan bentuk CBT dan OSCE, karena menurut beliau, dari CBT
didapatkan poin pengetahuan (knowledge),
sedangkan kemampuan (skills)
didapatkan dari OSCE. Transfer pengetahuan dilanjutkan dengan pemberian materi
ketiga yaitu mengenai IDEOPOLSTRATAK (Ideologi, Politik, strategi, dan taktik)
yang disampaikan langsung oleh DPD-RI Provinsi Riau, Ibu Intsiawati Ayus, SH.
MH. Poin penting dalam materi yang disampaikan yaitu bahwa suatu organisasi
seharusnya bergerak dengan strategi dengan tetap menjunjunga ideologinya, yang
kemudian dijalankan dengan taktik. Materi selanjutnya dibawakan oleh Pak
Safarudin Koto sebagai perwakilan langsung dari PWI (Persatuan Wartawan
Indonesia) cabang Riau. Beliau menyampaikan tentang media dan media advokasi. Beliau
menekankan pentingnya media saat ini, karena dengan media yang dapat membangun
opini sehingga membuat masyarakat percaya. Dengan pentingnya peran media, sudah
seharusnya digunakan dengan benar dan optimal. Kamudian dilanjutkan dengan
pemaparan materi kelima yaitu mengenai kabar apoteker Indonesia yang
disampaikan langsung oleh pengurus pusat IAI (Ikatan apoteker Indonesia) yaitu
Bapak Noffendri Roestam, S.Si, Apt.
“APA KABAR APOTEKER INDONESIA ?”
Noffendri
Roestam, S.Si, Apt. – Sekjend IAI 2014-2018
Berdasarkan PP 51 tahun 2009 yang menerangkan mengenai
kewenangan tugas apoteker lebih dari sekedar penjual obat, namun juga sebagai
seorang yang ahli mengenai obat, bahan-bahan obat, pendistribusiannya, hingga
pemberian edukasi tentangnya. Namun yang disayangkan, hal-hal tersebut hanya
diketahui oleh beberapa kelompok orang saja, sedangkan masyarakat umum masih
tetap mengenal apoteker sebagai penjual obat. Ketidakpopuleran apoteker itu
harus kita terima karena itulah keadaaannya sekarang, bahkan pemahaman
masyarakat mengenai obat hanya sebatas barang yang dikonsumsi saat terjadi
sesuatu yang tidak normal dlaam tubuh. Seharusnya obat bukan hanya komoditi
biasa, namun merupakan barang kesehatan yang harus dilayankan oleh farmasi.
Tidak sedikit golongan yang menginginkan adanya pembentukan
undang-undang yang mengatur tentang praktik kefarmasian sebagai upaya dalam
meningkatkan eksistensi dari apoteker sendiri. Di lain sisi, pihak IAI
memaparkan alasan atas ketidaksetujuan dalam pengajuan pembentukan
undang-undang mengenai praktik kefarmasian, karena dengan banyak landasan hukum
yang sudah ada, banyak apoteker yang belum memenuhi wewenangnya, apalagi ketika
undang-undang dibentuk, bisa jadi banyak apoteker yang ditimpakan sanksi atas
kelalaiannya selama ini.
Berdasarkan penjabaran tersebut, IAI tetap mengupayakan
hal-hal yang dapat dilakukan mengenai eksistensi apoteker ini. Upaya-upaya
tersebut antara lain dengan membangun kompetensi apoteker melalui
resertifikasi, memperbaiki teknis pembelajaran komunikasi bagi apoteker yang
seharusnya dilakukan oleh ahlinya, dan melakukan MOU dengan BPOM pada tahun
2015 serta membangun positioning
apoteker. Membangun positioning apoteker dapat meningkatkan popularitas apoteker. Upaya
kongkrit dari membangun positioning
ini telah dimulai yaitu dengan adanya program spesifik yang bertujuan untuk
meningkatkan popularitas apoteker sendiri seperti DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan,
Simpan, dan Buang obat dengan baik dan benar), dan GeMa CerMat (Gerakan
Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat). Selain itu, terdapat pula ketentuan
mengenai jas apoteker, dan papa nama apoteker berdasarkan hasil Rakernas IAI
tahun 2014 di Jakarta. Upaya-upaya tersebut dilakukan dengan harapan farmasi
memiliki masa depan yang kebih baik sesuai fungsi dan wewenangnya.
Materi terakhir pada hari kedua yaitu mengenai prospek
pergerakan yang dibawakan oleh kak Andreas P. Poin besar yang ditekankan oleh
beliau yaitu bahwa orang berlabel mahasiswa dapat menurunkan orang berlabel
presiden. Hal tersebut sudah jelas mengarah pada mahasiswa, dan salah satu
merubah sesuatu yaitu dengan pergerakan. Pergerakan diawali dengan adanya
kegelisahan.
Hari ketiga yaitu tanggal 20 Februari 2016, seperti biasa,
diawali dengan jogging di pagi hari,
kemudian disusul dengan pemaparan permasalahan tiap wilayah. Selanjutnya,
dipaparkan permasalahan dan rekomendasi kepengurusan dari BP BPH. Kegiatan kami
diakhiri dengan mengucapkan ikrar, dan ditutup dengan jargon kesatuan.
Resume
materi dalam Indonesian Pharmaceutical
Leadership Forum (IPLF) 2016 di Mona Plaza Hotel, Pekanbaru, Riau.
Batu, 5 Maret 2016
Best sincerely,
-MUFIDATUL ILMI KURNIAWATI-